November 30, 2016

Cara Singkat Mengatasi Layar Hitam pada Layar LCD Iphone 4 dan 5

Jika layar Iphone Anda tidak menyala, namun ada tanda-tanda getar, notifikasi, dan suara, lakukan satu langkah berikut ini.

Tekan tombol home dan power secara bersamaan sampai muncul logo Apple.

Ya. Cara ini adalah me-restart Iphone Anda. Perlu diketahui bahwa cara di atas akan menghapus data aplikasi (bukan dokumen foto, video, dan sebagainya), sehingga cara ini memungkinkan Anda untuk login kembali ke aplikasi yang telah Anda unduh sebelumnya, misalnya Black Berry Messanger.

Jika cara di atas tidak berhasil, maka kemungkinan LCD Anda harus diganti.

Itulah cara singkat mengatasi layar hitam pada Iphone. Cara ini saya bagikan berdasarkan pengalaman pribadi.

Semoga bermanfaat.

Jalur Pendakian Gn. Lemongan

4. Jalur

Artikel ini adalah bagian dari artikel Manajemen Pendakian Gunung Lemongan

Pemahaman terhadap jalur pendakian suatu gunung tentunya sangat penting untuk mempersiapkan, terutama, fisik kita. Meskipun hanya memiliki ketinggian 1671 meter, kesiapan fisik harus Anda perhatikan betul ketika akan mendaki Gunung Lemongan.

Seperti yang telah kami tuliskan dalam artikel Kondisi Geografis Gunung Lemongan, ada empat kondisi alam yang dua diantaranya akan 'menyambut' Anda dengan kata "Selamat datang di Gunung 'cilik' Lemongan". Bagaimana tidak? Trek gunung ini akan menguji kesiapan fisik, dan juga mental Anda. Di sisi lain, pendakian Gunung Lemongan umumnya dilakukan pada malam hari. Kondisi ini tentunya membuat Anda harus berhati-hati dan teliti dalam memilih jalur pendakian, terutama ketika Anda menemukan persimpangan.

Pertama, dari Pesanggrahan menuju Pos Watu Gedhe (WG), perjalanan memakan waktu sekitar 60-90 menit. Ambillah selalu jalur kanan ketika Anda menemukan persimpangan. Persimpangan pertama berada di beberapa meter setelah rest point Watu Silang. Nama tempat istirahat ini diambil dari sebuah batu yang diberi tanda silang (X) untuk menunjukkan bahwa ini bukan jalur pendakian, maka Anda harus mengambil jalur kanan. Setelah itu, Anda akan sampai di bebatuan di mana jalur pendakian tersamarkan oleh batu-batu yang beserakan yang dinamai Watu Telek (Batu Tahi). Di sini, Anda harus berjalan lurus sekitar 20 meter mengikuti tanda biru yang sudah mulai memudar sampai menemukan jalur kembali.

Kedua, pada jalur Laharan menuju Pos Gerbang (PG), pengambilan jalur kanan ini masih tetap berlaku. Selain jalur laharan ini memiliki banyak persimpangan, jalur sebelah kanan lebih mudah untuk dilewati. Meskipun persimpangan yang ada di sepanjang laharan ini tidak terlalu menyesatkan, jalur sebelah kiri sangat mudah longsor, sehingga Anda akan kesulitan untuk melewatinya. Maka ambillah jalur kanan. Namun ketika turun, Anda bebas memilih mana jalur yang dikehendaki. Jika ingin cepat sampai, pilihlah jalur kanan (ketika turun). Namun jalur ini akan menguji kekuatan sepatu, dan keseimbangan Anda untuk meluncur turun.

Nah yang terakhir, jalur dari PG menuju puncak berbeda dengan jalur sebelumnya, di mana Anda kali ini harus mengambil jalur kiri ketika menemukan persimpangan. Ada dua persimpangan di jalur Hutan Basah ini. Persimpangan pertama tepat berada di Guci (dispenser keramik penampung air). Ketika Anda menemukan benda ini, beloklah ke kiri. Meskipun pada akhirnya dua jalur ini bertemu, jalur yang lurus terdapat banyak tanaman yang lebat, sehingga Anda akan berjalan sedikit lebih sulit. Selain itu, jalur ini kerap dijadikan 'jamban' oleh para pendaki.

Ada satu persimpangan lagi di suatu dataran yang terbuka yang sering digunakan untuk beristirahat sejenak, 'Latar Ombo' sebutannya. Di tempat ini Anda akan menemukan persimpangan antara lurus dan belok ke kiri. Jalur ke kiri adalah jalur yang benar. Saya tidak tahu pasti arah jalur yang lurus tersebut. Kemungkinan, itu adalah jalur lama yang sudah tidak pernah dilewati pendaki dan saya yakin jalan sudah tertutup oleh semak-semak. Persimpangan adalah yang terakhir. Untuk sampai di puncak, Anda masih harus berjalan lagi kira-kira 30 menit.

Anda bisa mendownload peta jalur pendakian Gunung Lemongan di sini.

Kebudayaan di Gunung Lemongan

3. Kebudayaan

Artikel ini adalah lanjutan dari artikel Manajemen Pendakian Gunung Lemongan

Dalam mempersiapkan suatu pendakian, pendekatan kebudayaan juga sangat penting untuk dilakukan. Sebagai contoh, pendaki dilarang membawa telur ketika akan mendaki gunung di pulau Bali. Alasan larangan tersebut berdasarkan kepercayaan masyarakat Bali bahwa telur merupakan.... Lalu apa yang harus kita perhatikan saat mendaki Gn. Lemongan? Masyarakat di sekitar Gn. Lemongan sangat kental dengan kebudayaan Madura. Meskipun demikian, unsur kebudayaan Jawa juga tak kalah kental walau hanya ada satu tempat yang menjadi wujud eksistensi kebudayaan Jawa dan Kejawennya -- Pesanggrahan.

Perlu Anda ketahui bahwa Paseban Agung Sunyoruri (Pesanggrahan) tak pernah absen menggelar pertunjukan wayang sebagai puncak acara dari beberapa ritual yang dilakukan pada saat malam satu Sura (1 Muharram tahun Hijriyah). Acara ini selalu dihadiri masyarakat penganut Kejawen dari berbagai daerah di Pulau Jawa, dan juga masyarakat Hindu yang mayoritas berasal dari Bali. Kekentalan unsur budaya Jawa inilah yang sebaiknya kita perhatikan untuk menjaga tutur kata kita ketika mendaki Gn. Lemongan, di mana masyarakat Jawa sangat berhubungan erat dengan tutur kata yang sangat lembut dan sopan.

Hal lain yang harus Anda pahami betul adalah membuang sampah pada tempatnya, atau bahasa pendakinya disebut leave no trace. Jangan sekali-kali Anda meninggalkan sampah, apalagi melemparkannya ke sembarang tempat. Sudah banyak cerita tentang kejadian-kejadian aneh yang mengganggu pendaki Gn. Lemongan yang meninggalkan sampah di areal gunung ini. Cerita detailnya akan saya paparkan di artikel berikutnya.

Ada suatu pantangan yang harus Anda perhatikan ketika mendaki Gn. Lemongan. Jika Anda atau rekan Anda sedang mengalami menstruasi, kami anjurkan Anda untuk stay maksimal di Pos Watu Gedhe. Dari sisi medis, kekuatan fisik wanita akan menurun ketika sedang haid. Jika rekan Anda yang sedang mens memaksakan diri untuk 'muncak'  kemungkinan besar Anda akan 'menuntunnya', baik ketika mendaki maupun turun. Kasus seperti ini telah sering menimpa pendaki atau rekannya yang memaksakan untuk mendaki ketika dalam keadaan 'tidak suci'. Pengalaman para pendaki juga perlu kita jadikan pelajaran untuk menghindari hal serupa yang pernah dialami sebelumnya.

November 28, 2016

Kondisi Geografis Gn. Lemongan

2. Kondisi Geografis

Artikel ini adalah lanjutan dari Manajemen Pendakian Gunung Lemongan

Kondisi alam yang harus Anda perhatikan sebelum mendaki Gn. Lemongan adalah medan yang berat. Beratnya medan tersebut didukung dengan tidak adanya sumber air di jalur pendakian ke Gn. Lemongan. Berdasarkan kondisi alamnya, kami telah merangkum empat kondisi geografis yang perlu Anda ketahui.

Pertama, dari Pesanggrahan, Anda akan melewati jalan setapak landai yang masih 'bersahabat' dengan kaki Anda. Perjalanan ini memakan waktu kurang lebih setengah jam, sebelum Anda sampai di suatu tanjakan yang berarti Anda telah masuk di areal kedua, yaitu savana.

Di savana ini, Anda akan disuguhi dengan rerumputan yang sangat luas ditemani dengan hembusan angin malam yang kerap kali menyejukkan tubuh yang sedang berkeringat. Selama kurang lebih satu jam perjalanan di sepanjang savana, Anda akan sampai di Pos I "Watu Gedhe". Di Pos I ini, Anda dapat beristirahat sejenak sampai kira-kira pukul 1:00 untuk selanjutnya melanjutkan pendakian menuju puncak. Anda masih akan melintasi jalur savana di atas tangga batu alam yang tersusun secara alami.

Setelah kurang lebih setengah jam melintasi tangga batu alam, Anda akan sampai di medan ketiga yaitu Laharan. Seperti namanya, areal ini dipenuhi dengan pasir dan bebatuan vulkanik hasil muntahan lava Gn. Lemongan ratusan tahun yang lalu. Di areal terbuka ini, kesiapan fisik Anda akan diuji dengan kemiringan dan longsoran pijakan yang membuat Anda menjadi putus asa. Belum lagi longsoran dari pijakan rekan yang mendahului Anda dapat pula melukai Anda yang berada di bawahnya. Berdasarkan pengalaman para pendaki yang nyaris putus asa, maka tanjakan ini memiliki sebutan 'Tanjakan Putus Asa'.

Setelah berhasil melewati tanjakan putus asa, Anda akan sampai di Pos II. "Gerbang". Nama pos ini diambil berdasarkan lokasi yang memang tepat berada di antara laharan dan hutan basah. Kami menganjurkan Anda untuk tidak berlama-lama istirahat di tempat ini, karena terpaan angin sangat membuat diri kita kedinginan. Di samping itu, sisa makanan pendaki mengundang banyak semut merah yang, sepertinya, memiliki sarang tepat di pos tersebut. Dari hutan basah menuju puncak, perjalanan Anda akan memakan waktu sekitar dua jam dengan jalur yang tak kalah sulit seperti di laharan. Jalur di hutan ini memiliki kemiringan sampai mendekati 90° dengan ranting dan bebatuan yang kerap kali membutuhkan tenaga ekstra untuk melewatinya.

Dari keempat kondisi di atas, ini berarti bahwa Anda harus mempersiapkan mental, fisik, dan logistik Anda secara matang. Dalam hal logistik, air dan konsumsinya yang harus dipersiapkan dan diperhitungkan secara matang, mengingat tidak ada sumber di jalur pendakian Gn. Lemongan ini.

Artikel selanjutnya: 

Manajemen Pendakian Gunung Lemongan 1671 Mdpl

Gunung Lemongan (Nama resmi vulkanologi: Gunung Lamongan) adalah sebuah gunung yang berada di Kabupaten Lumajang, Kecamatan Klakah, Jawa Timur. Gunung ini merupakan gunung bertipe maar yang memiliki 27 kawah berbentuk ranu. Tiga ranu yang paling besar diantaranya: Ranu Klakah, Ranu Pakis, dan Ranu Bedali.

Sebelum melakukan pendakian ke Gunung Lemongan, pastikan bahwa Anda telah memiliki referensi yang pasti. Hal ini sangat penting bagi Anda untuk melakukan perjalanan yang efisien. Dalam kata lain, Anda merasa nyaman dalam melakukan pendakian dalam hal persiapan fisik, logistik, transportasi, dan tentunya dalam hal finansial sebelum melakukan perjalanan atau pendakian. Berikut kami merangkum hal-hal yang harus Anda pahami dan persiapkan sebelum melakukan perjalanan, khususnya ke Gunung Lemongan.

1. Lokasi
Sebenarnya, kini masyarakat telah dimudahkan layanan Google Maps untuk mengetahui letak suatu tempat. Namun, ada hal kecil yang sangat penting yang saat ini  belum bisa Anda temukan di layanan peta digital tersebut. Oke, kembali ke topik Gn. Lemongan. Ada dua jalur utama yang bisa Anda tempuh untuk menuju ke Gunung Lemongan. Pertama, jika Anda naik kendaraan umum dari arah Surabaya dan sekitarnya, ambillah bus dengan jurusan Jember dan turun di 'Pelawangan Klakah'. Lokasi ini tentunya juga sebagai tujuan Anda, jika Anda dari daerah Banyuwangi dan sekitarnya naiklah bus jurusan Malang atau Surabaya dan turunlah di tempat yang telah kami sebutkan di atas. Perlu diketahui bahwa di Pelawangan Klakah terdapat sebuah patung pahlawan nasional, Kapt. Soewandak, berjajar dengan perlintasan rel kereta api .

Pergi menggunakan kereta api (KA) juga lebih mudah. Anda tinggal mencari KA yang bisa turun di Stasiun Klakah yang berjarak hanya puluhan meter dari Pelawangan. Namun, perlu Anda perhatikan bahwa KA jarang berhenti di stasiun ini. Jadi, sebelum memutuskan untuk menggunakan KA, pastikan terlebih dahulu bahwa KA yang akan Anda tumpangi akan berhenti di Stasiun Klakah.

Kendala yang muncul ketika Anda memutuskan untuk menggunakan transportasi umum adalah sulitnya menemukan angkutan (lagi) yang akan mengantarkan Anda masuk ke kawasan Gn. Lemongan. Dengan kata lain, Anda harus berjalan kaki ke arah timur sejauh kurang lebih 3Km menuju tempat yang bernama Paseban Agung Sunyoruri, atau lebih dikenal dengan sebutan 'Pesanggrahan'.

Nah, jika Anda menggunakan kendaraan pribadi, motor misalnya, Anda dapat secara langsung menuju ke TKP. Namun, satu hal yang harus Anda perhatikan betul-betul yaitu, Anda harus menitipkannya di salah satu rumah milik ketua RW (Pak Kampung) untuk menjamin keamanan kendaraan Anda. Jangan sekali-kali memparkir kendaraan Anda di Pesanggrahan, jika Anda tidak ingin pulang jalan kaki. Ya, saya dapat memastikan kendaraan Anda akan dicuri. Inilah yang saya maksud bahwa Google Maps tidak bisa membantu Anda dengan layanan yang sangat mendetail. Anda bisa saja memparkir kendaraan Anda di Pesanggrahan, karena lokasi asli dan pencitraan Google Maps akan sama-sama menunjukkan bahwa Pesanggrahan Mbah Citro ini seperti sebuah lahan untuk parkir.

2. Kondisi Geografis
Beberapa kondisi alam yang harus Anda ketahui sebelum mendaki Gn. Lemongan  salah satunya adalah medan yang berat. Baca selengkapnya di sini

3. Budaya
Dalam mempersiapkan suatu pendakian, pendekatan kebudayaan juga sangat penting untuk dilakukan. Sebagai contoh, seorang pendaki dilarang keras membawa telur ketika akan mendaki gunung di Pulau Bali.
Baca selengkapnya di sini
4. Jalur
Pemahaman terhadap jalur pendakian suatu gunung tentunya sangat penting untuk mempersiapkan, terutama, fisik kita.
Baca selengkapnya di: